Jumat, 31 Agustus 2012

Hampir Tewas Oleh Siluman Harimau

Mempunyai hobi sebagai pemburu boleh-boleh saja. Karena kegiatan berburu terkadang juga bisa membantu orang lain. Seperti ketika para petani banyak yang mengeluhkan karena tanaman mereka dirusak babi hutan, keberadaan pemburu bisa membantu petani untuk mengurangi populasi binatang itu. Sehingga mereka tak mengganggu lagi ladang perkebunan milik petani.

Hanya saja menjadi pemburu hendaknya jangan semena-mena. Rasa peri kehewanan juga perlu ada, karena binatang juga makhluk Tuhan. Selain juga pengalaman seorang pemburu yang kita panggil saja namanya Dimas (ia tak mau mengungkapkan nama sebenarnya) tidak menimpa Anda yang mungkin suka berburu.

Dimas yang saat ini tinggal di Yogyakarta memang dulunya mempunyai hobi pemburu. Ia yang merupakan anak pengusaha ternama di Kota Gudeg ini mempunyai segudang pengalaman dalam berburu. Ia pernah menjelajahi hutan-hutan di Afrika untuk berburu. Untuk Indonesia, boleh dikatakan semua hutan sudah dijelajahi. Dari hutan di Kalimantan, Sumatera hingga berbagai hutan perburuan di Jawa.

Sebagai pemburu, Dimas memang termasuk ulet. Ibaratnya ia belum akan pulang kalau belum mendapatkan binatang buruan. Tapi, Dimas juga dikenal sebagai pemburu yang sadis. Dia tidak peduli dengan binatang yang diburu, baik itu binatang yang diperbolehkan diburu atau yang tidak semua jadi sasaran. Termasuk binatang betina yang lagi mengandung atau sedang membawa anak-anaknya mencari makan pun menjadi sasaran.

Hanya saja gara-gara sering sadis itu, saat berburu di satu hutan di Sumatera, Dimas pernah mengalami kejadian mistis yang nyaris membuat nyawanya hilang. Kejadian itu terjadi saat ia berburu di sana. Saat itu ia sempat membidik sepasang harimau yang tampaknya sedang berkasih kasihan.

Ia yakin satu dari dua harimau ada yang kena. Yang satu lari sambil mengaum marah. Sedang yang satu lagi tampak tewas seketika. Namun ketika bersama dengan temannya menghampiri di tempat yang diperkirakan harimau itu dilumpuhkan. Ia tidak melihat harimau yang telah dirobohkan. Bahkan bekas tapak harimau juga tidak ada. Padahal bersama Bowo temannya ia melihat sendiri bagaimana harimau itu roboh tak berdaya. Dan yang satu lagi melarikan diri. Suara auman marah juga masih terdengar. Namun binatang itu seperti lenyap ditelan bumi. Dimas mengajak kawannya untuk mencari di mana harimau itu berada.

Insting berburu mengatakan kemungkinan harimau itu berada tak jauh dari tempat itu. Namun temannya yang mempunyai naluri kalau harimau itu bisa jadi merupakan harimau jadi-jadian berusaha mencegah.
Bowo mengajak pulang dengan alasan hari telah mulai malam.

"Tapi jangan-jangan tadi harimau siluman. Apalagi hari mulai gelap, kita akan tersesat dalam hutan ini nanti," alasan Bowo. "Ah… kamu ini… hidup di zaman modern ini masih percaya takhayul. Orang-orang seperti kamu itu yang menjadi penghambat kemajuan negeri ini. Negara lain sudah bisa pergi ke bulan atau bikin pesawat modern, kamu ini masih seperti hidup di jaman Majapahit," ledeknya.

Untuk masalah bantah membantah, Dimas memang jagonya. Sedangkan Bowo sendiri tak begitu pandai bersilat lidah. Apalagi Bowo juga penakut tak berani pulang sendiri, sehingga akhirnya ia hanya bisa mengikuti saja kemauan Dimas. Mereka berdua terus masuk ke hutan, suasana mulai gelap karena hari menjelang malam.

Namun semakin masuk ke hutan belantara jejak harimau tak bisa diketemukan. Dimas terus mengumpat-umpat. Dan kemudian mengajak pulang. Namun jalur pulang tidak mereka dapatkan, padahal tadinya juga telah membuat tanda khusus agar bisa mengenali jalan keluar hutan. Sampai larut malam mereka masih tersesat dalam hutan. Dimas terus
mengumpat-umpat.

Bowo semakin galau, apalagi perbekalan yang mereka bawa terbatas. Mereka berdua baru lega ketika menemukan sebuah gubuk di hutan. Apalagi terlihat ada lampu minyak terpasang di depan rumah, berarti kalau di dalam gubuk
ada penghuninya.

"Kita mampir ke gubuk itu, sekalian untuk istirahat dan nanti kita tanya pada pemiliknya nanti mana jalan pulang," usul Bowo. Dimas yang tampak kelelahan hanya bisa mengangguk. Mereka bergegas menuju ke pondok di tengah hutan itu. Dan ternyata benar ada penghuninya, karena pintu ada yang membukanya. Ternyata seorang tua yang berusia 80 tahunan. Di dalam juga tampak seorang perempuan muda yang tampaknya baru menangis.

"Silakan Nak masuk?" kata si pemilik dengan ramah. Dimas dan Bowo pun tampak lega, paling tidak malam ini mereka bisa beristirahat dengan tenang. Apalagi ketika mereka minta izin numpang menginap, Pak tua itu dengan ramah mempersilakan.

"Boleh Nak, malah kami senang," katanya. Tak lama kemudian minuman kopi dan nyamikan pun dihidangkan, oleh perempuan muda yang tampaknya masih terlihat sedih. "Silakan diminum nak, ya adanya hanya ini. Itu anak perempuan saya, kalau anak melihat dia tampak muram itu karena sedih baru saja ditinggal mati tunangannya," bisik orang tua itu.

Bowo dan Dimas tampak mengangguk-angguk. Namun mata Dimas yang terkenal mata keranjang mencoba mencuri pandang pada si wanita muda itu. Dalam pandangannya ia melihat perempuan muda itu sangat cantik. Wajahnya sangat mirip dengan Sarah Azhari, salah satu bintang film dan sinetron yang terkenal karena seksi itu.

Ketika asyik ngobrol tiba-tiba Pak Tua minta pamit. Katanya ingin melihat ladangnya di pinggir hutan. Bowo dan Dimas hanya bisa mengangguk-angguk. "Titip anak saya ya pada anak berdua, kalau bisa hiburlah dia agar bisa melupakan kesedihannya."

Setelah itu Pak Tua itu mengambil caping dan keluar dari gubuk untuk menuju ladang. Ternyata walau mukanya masih terlihat sedih perempuan muda itu mau diajak ngobrol. Apalagi Dimas yang terkenal playboy itu mampu mengajak menarik perempuan muda yang kemudian memperkenalkan diri dengan Menur itu mau untuk diajak ngobrol. Kepandaian bicara Dimas juga wajah tampannya membuat obrolan yang tadinya bertiga jadi berdua, karena Bowo jadi tersingkir dari gelanggang pembicaraan.

Dalam istilah sekarang jadi obat nyamuk. Merasa tak dianggap, Bowo pun keluar rumah dengan alasan mencari angin. Sementara yang di dalam pembicaraan makin menarik. Bahkan sepasang anak cucu Adam itu mulai cubit-cubitan. Menur terlihat makin aleman. Dimas yang pandai merayu seperti di atas angin. Apalagi ketika Menur mengajak untuk bicara di dalam kamar. Bowo yang berada di luar sebenarnya memberi isyarat pada Dimas untuk tetap menjaga kesopanan, namun tak diindahkan. Bowo makin berdebar-debar, jangan-jangan nanti kalau pulang dari ladang Pak Tua mempergoki ulah Dimas dan Menur. Dengan hati mangkel Bowo duduk di bangku panjang yang berada di teritisan. Tak lama ia pun tertidur.

Paginya saat bangun ternyata ia tertidur di bawah pohon, rumah gubuk yang tadi ada itu ternyata merupakan gua. Ia kaget karena mendapatkan Dimas temannya tampak merintih kesakitan. Mukanya berdarah seperti dicakar-cakar binatang buas, luka-luka mengerikan juga terlihat di sekujur tubuh yang lain seperti dada, perut dan kaki.
Ia hanya bisa merintih tak berdaya, Bowo pun kesulitan untuk membawa pulang. Dari jauh terdengar auman harimau yang membuat suasana semakin ngeri.

Untung saja pagi itu harimau tampaknya telah menjauhi tempat itu. Dilihat dari suaranya tampaknya hanya seperti memberi isyarat kalau mereka telah puas membalas dendam. Ternyata gua itu letaknya tak jauh dari pemukiman, akhirnya dengan dibantu warga pinggiran hutan Dimas bisa dilarikan ke rumah sakit. Nyawa Dimas memang bisa terselamatkan, namun ia harus menderita cacat pada muka. Wajahnya yang dulu tampan kini menjadi mengerikan.
Kepada Bowo sahabat karibnya, Dimas cerita kalau malam itu Menur tampak agresif. Bahkan dia yang berinisiatif untuk mengajaknya masuk ke kamar.

Dimas yang tampaknya sudah masuk dalam jebakan harimau siluman itu semakin melayang-layang. Namun saat akan mencapai puncak, tiba-tiba Menur tampak berubah wajahnya menjadi wajah harimau. Sekujur tubuhnya juga berbulu loreng-loreng.

"Kau yang membunuh kekasihku, kini kau harus mati!" Melihat perubahan, Dimas pun kaget. Namun untuk melepaskan diri sudah tak mungkin.Ia seperti tidak berdaya dengan cakaran harimau betina itu. Darah mulai mengucur di sekujur tubuhnya. Nyawanya nyaris melayang, kalau tidak datang seekor harimau lagi. Sang harimau bersuara mirip suara Pak Tua yang membukakan pintu kemarin.

"Sudahlah, dia sudah mendapat akibat yang telah diperbuat. Biarlah Tuhan yang menghukumnya nanti," cerita Dimas dengan suara tangis terisak. Dua harimau itu kemudian meninggalkannya. Ia kemudian hanya bisa merintih kemudian pingsan.

Baru sadar ketika sudah berada di rumah sakit. Kini Dimas sudah kapok dengan hobi berburunya. Bahkan dia juga terlihat lebih taat dalam menjalankan ajaran agamanya.

Sumber : Hamid Nuri (misteri)

indospiritual.com

Aku Terpaksa Menikah dengan Genderuwo


Demi masa depan kedua anaknya, ia nekad memilih jalan hidup yang mungkin sangat sulit dijelaskan dengan nalar. Ia rela kawin dengan genderuwo. Ini ia lakukan bukan semata-mata karena ia mendambakan hidup bahagia dengan limpahan harta dari suaminya yang berasal dari dunia gaib tersebut. Namun, sekali lagi, ia melakukannya demi masa depan  kedua anaknya yang telah lama ditinggal pergi oleh ayahnya.

Tapi, bagaimana kenyataan selanjutnya yang harus ia hadapi? begini ceritanya....

Kehidupan rumah tanggaku pada awalnya sangat bahagia. Suamiku, Warijo, seorang pria yang sangat bertanggungjawab. Ia juga ayah yang baik dan sangat menyayangi ketiga anaknya.

Suatu saat kami harus pindah dari Surabaya ke Palembang. Maklum saja,  ketika itu Mas Warijo dimutasi ke kantor cabang perusahaan tempatnya bekerja dengan posisi dan jabatan, juga gaji yang tentu saja jauh lebih baik. Semula kami berharap akan mendapatkan kehidupan yang lebih bahagia lagi di tempat baru ini, namun justeru di Kota Empek Empek inilah kepahitan itu berawal.

Ya, tragedi itu bermula dari vonis kanker otak terhadap anak ketiga kami Bambang Prihandoko, yang ketika itu baru berumur 3,5 tahun. Kenyataan ini sungguh memukul batinku, juga batin suamiku. Sejak si bungsu divonis mengidap kanker otak, kulihat Mas Warijo sering melamun seorang diri. Memang, dibanding kedua anaknya yang lain, Mas Warijo jauh lebih menyayangi si bungsu, sebab sejak bayi merah anak ini memang sering sakit-sakitan sehingga membutuhkan perhatian ekstra dari kami. Mungkin karena itulah tumbuh kasih sayang yang sangat besar dari kami berdua, terutama Mas Warijo yang pernah menyebut Bambang sebagai "anak yang akan memiliki banyak keajaiban," sebab ketika aku mengandungnya Mas Warijo mengaku sering bermimpi ditemui seorang kakek bersorban putih mirip sosok wali, yang menitipkan anak padanya. Namun, mimpi hanyalah mimpi. Kenyataan tetap berbicara lain.

Meski biaya pengobatan si kecil ditanggung oleh Asuransi Kesehatan (ASKES) dari perusahaan tempat Mas Warijo bekerja, namun karena penyakit yang diderita oleh Bambang relatif langka dan sulit disembuhkan, maka usaha kami membawanya berobat ke berbagai rumah sakit ternama di Kota Palembang sepertinya hanya sia-sia saja. Bila sedang kumat si kecil Bambang sering jatuh pingsan, dan kami tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali hanya membawanya ke rumah sakit untuk sekedar mendapatkan penangangan gawat darurat.

Kami hampir putus asa menghadapi keadaan si bungsu. Puncaknya, pada musim libur hari raya Idul Fitri di tahun 2005 silam, kami sekeluarga memutuskan mudik ke kampung halamanku di Wonogiri, Jawa Timur. Disamping ingin berlebaran bersama keluarga, rencananya kesempatan ini juga akan kami gunakan untuk mencari cara alternatif guna mengobati penyakit Bambang.

Manusia hanya bisa berencana, sedang Tuhan juga yang menentukan. Itulah yang terjadi. Seminggu setelah tinggal di rumah orang tuaku untuk menikmati liburan, dan sebelum sempat kami membawa Bambang berobat secara alternatif, ternyata Tuhan telah memanggilnya lebih dulu. Bambang menghembuskan nafas terakhirnya dalam gendongan ayahnya.

Kepahitan ini terjadi hanya 3 hari setelah hari raya Idul Fitri. Betapa berdukanya kami sekeluarga karena kepergian Bambang jatuh pada hari yang semestinya penuh dengan kabahagiaan. Apalagi malam harinya Bambang masih sehat dan bermain-main dengan kami. Baru menjelang subuh ia pingsan setelah lebih dulu kejang karena menahan sakit pada kepalanya, sampai akhirnya ia tak kuat lagi melawan rasa sakit itu.

Kepergian si bungsu sungguh merupakan kehilangan yang teramat besar bagi kami. Sebagai ibu yang merawatnya sejak masih dalam kandungan, sudah barang tentu sulit bagiku untuk mengikhlaskan kepergiannya. Mas Warijo pun sepertinya merasakan hal yang sama. Namun sebagai lelaki ia sudah pasti jauh lebih kuat jika dibandingkan denganku. Buktinya, walau masih dalam kedukaan, karena masa liburan yang sudah habis, maka itu setelah selamatan tujuh hari kepergian Bambang, Mas Warijo kembali ke Palembang untuk melakukan rutinitasnya sebagai seorang karyawan sebuah perusahaan swasta. Sementara itu aku sendiri lebih memilih untuk tetap tinggal di rumah orang tuaku. Demikian pula dengan kedua anakku yang ketika itu baru duduk di kelas satu dan dua SMP. Mereka tetap tinggal di Wonogiri, bahkan karena kedekatan dengan kakek dan neneknya kedua anakku ini memilih pindah sekolah.

Sejak kepergian si bungsu, hari-hari yang kulalui terasa sangat hampa. Berat pula bagiku untuk kembali ke Palembang mengingat kedua putra dan putriku juga enggan untuk menyusul ayahnya pulang ke sana. Kerana keadaan ini pada akhirnya aku pun lebih memilih tinggal di Wonogiri. Suamiku cukup mengerti dengan pilihanku ini. Ia tahu pasti kalau kondisi jiwaku masih sangat labil.

Lima bulan berlalu sejak kematian si bungsu, Mas Warijo masih rutin mengirimi kami uang untuk biaya hidup setiap bulannya. Di bulan ke 6 sesuatu yang tak pernah kuduga sebelumnya terjadilah. Kiriman uang dari Mas Warijo tak kunjung tiba sesuai jadwal biasanya. Mendapati kenyataan ini, kucoba menghungunginya lewat ponsel miliknya, tapi ternyata mailboks. Ketika kukontak lewat telepon kantor, pihak resepsionis malah mengatakan kalau Mas Warijo sudah mengundurkan diri sejak sebulan lalu.

Berita ini benar-benar membuatku pusing tujuh keliling. Mengapa Mas Warijo mengundurkan diri dari pekerjaan dengan tanpa terlebih dahulu meminta pendapatku, atau setidaknya memberitahuku? Apa yang telah terjadi dengannya? Mengapa ia begitu berani mengambil keputusan yang sedemikian gegabah? Apakah ia sudah mendapatkan pekerjaan lain yang jauh lebih menjanjikan?

Setumpuk pertanyaan itu tak pernah kudapatkan jawabannya, sebab sejak kuterima berita itu Mas Warijo seolah telah menghilang dari jagat raya ini. Tak pernah secuilpun kudengar kabar tentang dirinya. Berulang kali kuhubungi nomor ponselnya, namun yang kudengar hanya suara operator yang mengatakan bahwa nomor tersebut tak dapat dihubungi.

Betapa kecewa hatiku, sebab Mas Warijo pun sama sekali tak pernah mengontakku walau hanya sekejap saja.

Kemana perginya Mas Warijo? Tak ada seorang pun yang bisa menjawabnya. Ia telah pergi tanpa pesan. Meninggalkanku dengan dua orang anak yang masih membutuhkan biaya hidup yang sangat besar, terutama  untuk pendidikannya.

Di tengah keputusasaan aku bertemu dengan sahabatku semasa SMA dulu. Sebut saja namanya Yulianah. Waktu itu aku sangat surpraise melihat keadaan Yulianah yang sepertinya sudah jadi orang sukses. Ia bisa nyetir sendiri mobilnya yang bagus dan sangat mewah menurutku. Tak hanya itu, ia juga sudah menyandang gelar sebagai seorang Hajjah, dan ia nampak cantik sekali dengan balutan busana muslimah.

Bagaimana ceritanya sampai kehidupan Yulianah bisa berubah dengan sedemikian drastis? Padahal, aku tahu persis bagaimana asal-usul sahabatku ini. Ia lahir dari keluarga petani yang sangat miskin. Bahkan sewaktu sekolah dulu ia sering menunggak SPP, dan kalau jajan di kantin sering kali aku yang mentraktirnya.

Melihat Yulianah yang sudah hidup senang, terus terang saja aku merasa sangat iri padanya. Sahabatku ini seolah-olah bisa membaca perasaanku. Buktinya, seminggu setelah bertemu dengannya, ia mengundangku datang ke rumahnya.

Ketika aku sampai di rumahnya, kekagumanku padanya semakin besar saja. Bagaimana tidak? Kulihat rumah Yulianah yang megah dan cukup mewah menurut ukuranku.

"Kemana suamimu, Yul?" tanyaku ketika itu saat melihat suasana rumah yang sepi.

Yuliana tersenyum  sambil menyuguhkan cemilan di hadapanku. "Aku sudah 5 tahun menjanda, Ret!" katanya.

Mendengar jawabannya, aku merasa sedikit tak enak hati. Namun, Yulianah sepertinya tidak merisaukan pertanyaanku barusan. Nyatanya ia segera menyambung penjelasannya.

"Suamiku selingkuh, jadi kupikir mending bercerai saja. Lagi pula, sekarang ini keadaanku sudah cukup mapan. Karena itu meski mantan suamiku sering meminta ingin kembali, tapi dengan tegas selalu kutolak. Apalagi kedua anakku juga sudah besar. Mereka tidak pernah menanyakan Bapaknya. Ya, beginilah kehidupanku, dan aku merasa cukup bahagia meski tanpa suami. Oya, bagaimana keadaanmu rumah tanggamu, Retno?"

Karena ditodong pertanyaan seperti itu, akhirnya tanpa tedeng aling-aling kuceritakan bagaimana porak-porandanya keluargaku. Sebagai sahabat, sepertinya Yulianah sangat tersentuh mendengar ceritaku.

Ia berkata setelah menyimak ceritaku, "Aku ini tetap sahabatmu, Retno. Karena itu aku juga ingin melihat hidupmu bahagia. Masalahnya, apakah kau mau melakukan solusi yang akan kuberikan, dan apakah kau akan mempercayainya?"

"Seperti apa solusi yang kau tawarkan itu, Yul?" aku balik bertanya.

"Kau harus kawin dengan genderuwo!"

Betapa terkejutnya aku mendengar jawaban dari mulut mungil sahabatku ini. Bagaimana mungkin Yulianah yang sudah menyandang titel sebagai seorang Hajjah itu sampai tega hati menawarkan solusi sesat itu padaku?

Seolah bisa membaca keterkejutanku, Yulianah buru-buru menyambung ucapannya sambil tersenyum, "Kau jangan buru-buru berpikiran negatif! Kau pasti menyangka ini semacam pesugihan bukan? Sama sekali tidak, Retno! Menurutku ini halal. Kau akan dinikahkan dengan makhluk itu secara Islam. Selama kau menjadi isterinya, genderuwo itu akan menafkahimu secara lahir dan batin. Bila kau sudah merasa punya cukup modal, kau bisa bercerai dengannya. Dan yang paling penting, ritual ini tidak ada tumbal macam-macam. Asal kau tahu saja, aku bisa seperti ini juga kerana melakukan ritual itu. Setahun lalu aku minta cerai sebab aku sudah merasa punya cukup modal untuk berusaha sendiri. Genderuwo itu bersedia menceraikanku, dan sekarang hidupku tenang sebab aku juga bisa menjalankan ibadah."

Setelah mendengar penjelasan Yulianah seperti itu, akupun mulai tertarik untuk mengikuti jejaknya. Terlebih lagi kehidupan saat itu memang sangat susah. Bapakku yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga sudah berhenti bekerja\ karena penyakit diabetes yang merongrong tubuhnya. Belum lagi aku juga harus memikirkan biaya sekolah dan masa depan kedua anakku. Walau bagaimana pun mereka harus terus sekolah dan kuliah sampai ke perguruan tinggi.

Dengan kedua alasan tersebut akhirnya aku meminta Yulianah untuk mengantarkanku ke rumah "orang pintar" yang katanya sudah biasa memandu ritual kawin dengan genderuwo itu.

Singkat cerita, Yulianah mempertemukanku dengan Ki Badrowi, sebetulah begitu, paranormal yang biasa mengawinkan manusia dengan genderuwo. Setelah mendengarkan penjelasan tentang keinginanku yang disampaikan oleh Yulianah, Ki Badrowi mengaku bersedia membantu. Namun aku diminta untuk mempersiapkan semua kelengkapannya, seperti Apel Jin dan berbagai sarana lain untuk selamatan ritual perkawinan itu nantinya. Yulianah bersedia membantuku menyaiaokan semua keperluan ini.

Benar juga kata Yulianah. Ritual perkawinan itu memang seperti halnya prosesi perkawinan dalam aturan hukum Islam. Artinya, ada saksi, penghulu, wali, pengantin, dan juga ijab kabul, bahkan juga mas kawin berupa cincin emas seberat 1 gram. Untuk wali langsung diwakilkan kepada Ki Badrowi, sebab ayahku memang tidak mungkin bisa dihadirkan. Jadi, dalam prosesi pernikahan itu Ki Badrowi bertindak sebagai wali sekaligus penghulunya.

Karena mempelai lelaki tak bisa dilihat oleh mataku, maka proses ijab kabul pun sangat janggal menurutku. Sama sekali tidak ada ucapan akad nikah, meski kemudian wali dan saksi langsung mengesahkannya.

Yang juga terasa aneh, setelah prosesi pernikahan selesai, Yulianah berbisik di telingaku, "Suamimu itu tampan sekali, Retno. Kau beruntung mendapatkannya!"

Tampan? Bagaimana mungkin Yulianah mengatakan ini padaku, padahal aku sama sekali tidak melihat keberadaan suamiku itu. Apakah memang Yulianah bisa melihat perwujudannya sehingga ia berkata demikian?

Aku tak tahu pasti. Yang jelas, aku meyakini kalau Yulianah hanya membohongiku. Buktinya, aku mengalami ketakutan yang teramat sangat ketika di malam Jum’at Kliwon itu suamiku gaibku datang dan ingin menjalankan kewajibannya di malam pertama. Memang, sesuai dengan pesan Ki Badrowi, malam pertamaku dengan suamiku yang genderuwo itu akan dimulai persis pada malam Jum’at Kliwon. Dan, menurut paranormal itu, setelah menjalankan kewajibannya di malam pertama, maka suamiku itu akan memberikan nafkah materinya berupa tumpukan uang dalam jumlah yang lebih dari mencukupi.

Persis di malam Jum’at itu kebetulan di kampung tempatku tinggal sedang ada orang hajatan dengan hiburan musik dangdut. Kedua anakku sejak sore sudah minta ditemani nonton. Karena ada niatan khusus, sudah tentu aku menyuruh mereka pergi nonton sendiri-sendiri. Yang tinggal di rumah ayahku yang terbaring sakit dan ibu yang selalu setia menemaninya.

Menjelang pukul 12 malam kedua anakku pulang, dan mereka tidur di kamar depan. Aku sendiri masih menunggu apa yang akan terjadi. Pintu kamar kukunci rapat-rapat, meski udara malam itu terasa sangat panas dan gerah.

Sesuai dengan pesan Ki Badrowi aku sudah berdandan cantik dengan pakaian yang diaromai oleh minyak khusus pemberian dukun itu, yang baunya cukup menyengat. Aku tak ubahnya seperti pengantin perempuan yang sedang menunggu kehadiran sang pengantin pria untuk menikmati bulan madu.

Menjelang pukul satu dinihari masih tetap tidak terjadi apa-apa. Akupun mulai lelah menunggu. Sambil menahan kantuk kurebahkan tubuhku di atas ranjang. Ketika rasa kantuk sudah mulai menggayuti pelupuk mataku, antara sadar dan tidak aku dikejutkan oleh sesuatu yang terjadi di dalam kamarku.

Aneh sekali, sosok bayangan hitam sepertinya tiba-tiba muncul dari balik dinding. Beberapa saat kemudian bayangan itu semakin mempertegas wujudnya. Ya, seorang lelaki tinggi besar, berbadan hitam dan licin berkilat. Dan yang sungguh aneh, dia sama sekali tidak mengenakan pakaian walau sehelai benang pun.

Siapakah lelaki tinggi besar ini? Apakah dia genderuwo yang telah sah menjadi suamiku? Mengapa sosoknya sedemikian menyeramkan? Padahal, Yulianah bilang suamiku ini sangat tampan. Apakah Yulianah benar-benar sudah membohongiku?

Berbagai pertanyaan itu mendera batinku. Kulihat lelaki bugil itu berdiri sambil memandangi tubuhku. Kemudian pelan-pelan ia menunduk dan tangannya menyentuh pipiku. Aku bergidik dan berusaha berontak, namun anehnya seketika itu tubuhku berubah sangat kaku seperti terpasung oleh suatu kekuatan gaib.

Dengan sangat ketakutan aku hanya bisa pasrah menghadapi sentuhan makhluk itu. Setelah ia menyentuh pipiku, lalu ia mengendus aroma rambutku yang tergerai, lalu hidung dan bibirnya menjelar di permukaan pipi, hidung, bibir dan daguku.

Sejekap kemudian, lelaki menyeramkan itu seperti kalap. Tangannya yang kekar melingkar di sekujur tubuhku, hingga membuat nafasku semakin sesak. Bibirnya melumat bibirku, dan sepasang kakinya yang licin mengkilat itu mengapit kedua belah kakiku dan berusaha mengangkangkannya.

"Tolooong…!!" Aku ingin berteriak sekeras-kerasnya. Namun celakanya mulutku bagai tersumbat. Teriakanku hanya menggema di dalam rongga dadaku.

Tangan pria aneh itu semakin liar menggerayanghi tubuhku, sebelum akhirnya membuka bajuku dan melepaskan kain yang kupakai. Desah nafasnya yang memburu bagaikan sebuah kekuatan hipnotis yang membuatku hampir saja hilang kesadaran.

Tetapi, Tuhan menyayangiku. Dalam keadaan yang sangat kritis itu tiba-tiba saja mulutku berucap dengan lantang, "Astagfirullah…Allahu Akbar…Laa Khaula Walaa Kuwwata Illah Billah…!!"

Ya, sekali ini suara itu benar-benar keluar dari mulutku. Dan yang terjadi di hadapanku sungguh sebuah kenyataan yang sulit dimengerti.

Mendadak saja lelaki telanjang itu terpental dari atas tubuhku, sambil mengerang keras seperti seekor anjing yang terluka. Bersamaan dengan itu tubuhku yang semula kaku dapat digerakkan kembali. Spontan aku melompat dari tempat tidur sambil menjerit-jerit memuji kebesaran Allah.

"Laa Ilaaha Illallah…Allahu Akbar…Subhanallah…!"

Pujian-pujian itu keluar begitu saja dari mulutku, dengan suara yang lantang. Sama seperti kejadian semula, sosok makhluk itu mengubah wujudnya menjadi bayangan hitam lalu hilang seolah masuk ke dalam dinding.

Tak lama kemudian kedua anakku menggedor-gedor pintu sambil memanggil-manggil "mama". Ketika pintu kubuka mereka langsung berhamburan memelukku dan langsung bertangisan.

"Apa yang terjadi, Ma?" tanya Angga, anak sulungku.

Aku hanya menggeleng-geleng sambil membiarkan air mataku mengalir deras membasahi sekujur wajahku. Sungguh aku tak kuasa menjelaskan semua ini kepada kedua anakku. Aku tak ingin melukai perasaan mereka. Aku tak ingin mereka menudingku telah melakukan kesesatan hanya karena tak tahan menanggung kesusahan hidup….

Siang setelah malamnya mengalami kejadian aneh tersebut, Yulianah datang menemuiku dan mengatakan kalau aku telah gagal dalam melakukan ritual.

"Biarlah kujalani kehidupan seperti ini, Yul! Aku tak ingin lagi melakukan ritual kawin dengan genderuwo itu," kataku setelah mendengar penjelasan Yulianah.

Meski mengaku kecewa, namun Yulianah cukup mengerti dengan perasaanku. Sebagai sahabat, ia juga meminta agar aku tidak sungkan-sungkan meminta bantuan padanya bila aku memerlukannya. Namun sejujurnya, aku tak pernah berani meminjam uang kepada sahabatku ini walau dalam keadaan sesulit apapun. Ini semata-mata kulakukan karena aku takut sesuatu akan terjadi terhadap diriku.

Ketika kuputuskan mencurahkan kisah ini kepada Bung Prayoga Gemilang, tak terasa sudah hampir setengah tahun peristiwa itu berlalu. Walau begitu, aku masih mengalami perasaan traumatik, sebab bayangan lelaki alam gaib itu masih sering menghantuiku. Ia sering datang dalam mimpiku dan menagih malam pertamanya padaku.

Sumber : Prayoga Gemilang (Misteri)
indospiritual.com

Kakekku Mampu Berubah wujud Jadi Harimau


Perjalanan dengan kereta api Jakarta-Blitar kali ini sungguh sangat melelahkan. Bukan hanya penumpang yang berdesak-desakkan seperti ikan tertumpuk dalam kaleng, namun juga mulai Bekasi hingga Tulungagung hujan enggan berhenti. Praktis, suasana dalam gerbong kereta api makin pengap, campur aduk antara bau keringat orang, bau pesing dari toilet yang tidak tertutup serta barang bawaan penumpang yang menyengat hidung.

Karena lelahnya, begitu tiba di rumah kakek, aku langsung ngorok hingga bangun sudah bersamaan dengan mentari bertahta indah di ufuk timur.

"Mimpi apa kamu tadi malam, Ko?" sapa kakek. Begitu aku membuka mata, kakek sudah berada di samping ranjang berderitku.

"Tidak mimpi apapun. Saya tidur sangat nyenyak, Kek. Mungkin karena lelah setelah menempuh perjalanan yang sangat panjang," sahutku. "Apa Kakek ingin aku mimpi ketemu Nenek di alamnya sana dan Nenek titip salam buat Kakek?" sambungku dengan nada bercanda.

"Wong orang sudah meninggal kok kirim salam! Nenekmu sudah tenang di alam barzah sana, Ko. Semasa hidupnya dulu dia orang yang tekun ibadahnya, terpuji budi pekertinya serta ibu dan nenek yang baik bagi anak dan cucunya," ujar Kakek sambil menepuk-nepuk pundakku.

Aku terdiam mendengar penuturannya. Memang begitulah Nenek yang ak kenal. Itu sebabnya kami semua merasa begitu kehilangan setelah beliau wafat beberapa tahun lalu.

"Jadi anak yang baik. Biar banyak manfaat yang kamu dapat selama menerima amanahNya sebagai khalifah di muka bumi ini," nasehat Kakek ketika melihat aku terdiam menyimak ucapannya tadi. Kakek memang selalu begitu. Siapa saja yang dijumpai, tidak terbatas anggota keluarga saja, Kakek selalu wanti-wanti agar tidak neko-neko hidup di alam mayapada ini, supaya jika kembali ke haribaan Allah bisa khusnul khatimah, akhir yang baik. 

Hampir tiap tahun, aku selalu menyempatkan diri menyambangi Kakek. Dia hidup sendirian, sementara anak-anaknya yang sudah memiliki rumah sendiri-sendiri. Saat disarankan untuk ikut di rumah salah seorang anaknya agar di hari tuanya lebih terawat, Kakek tidak mau. Aku masih mampu mengurus diri sendiri. Aku tidak ingin merepotkan mereka, selalu demikian Kakek beralasan tentang ketidaksiapannya nebeng di keluarga salah satu keturunannya tadi.

"Kapan kuliahmu kelar, Ko?" tanya Kakek suatu pagi sehabis sarapan dengan lauk daun singkong rebus, sambal terasi kegemaran Kakek. Semua Kakek sendiri yang masak. Sejak bujang Kakek memang tukang masak yang baik. Masakan olahannya tidak pernah ada orang mengatakan tidak enak. Disukai siapa saja. Tak heran jika rahasia masak Kakek jadi tumpuan menimba ilmu kuliner dari para tetangganya.

"Sebenarnya sudah selesai, Kek. Tinggal menunggu wisuda saja."
"Oh…Terus, rencanamu ke mana setelah bangku perguruan tinggi kelak kamu tinggalkan?"
"Kerja, Kek."
"Kerja apa?"

"Apa saja mau, asal halal dan bisa untuk menopang hidup. Keinginan saya tidak terlalu muluk-muluk, Kek."
"Bagus. Tapi ingat,jangan menyalahgunakan wewenang, menyimpangkan kekuasaan demi keuntungan pribadi. Jaman ini memang langka orang yang idealis demikian. Lebih baik muncul sebagai manusia langka ketimbang menjadi orang jelek tingkah lakunya secara berjama’ah, Ko."

"Akan saya upayakan, Kek."
"Nah, harus gitu!"

Sederet senyum kebanggaan mencuat dari wajah tua Kakek. Menurut Ibu, usia Kakek hampir 90 tahun. Walau demikian, fisiknya masih bagus, daya ingatnya tajam, tak pernah mengeluh sakit, kecuali lelah biasa.

Banyak falsafah hidup kudapat dari Kakek. Dia yang bukan tipe pemarah, apalagi berkeluh-kesah. Kakek senantiasa nrimo ing pandum yakni menerima apa adanya tanpa berkeluh-kesah. Soal ibadah, Kakek bisa menjadi contoh karena beliau sangat tekun ibadah. Kamus malas seperti jauh dari hidup Kakek.

Meski hanya seorang petani, namun Kakek bukan petani minim wawasan dan pengetahuan. Kakek tergolong petani teladan, sehingga lima orang anak-anaknya mencicipi bangku pendidikan tinggi dan lulus menjadi sarjana. Mereka juga menjadi pekerja yang tak jauh beda uletnya dengan orangtuanya. Tepat kiranya jika Kakek disebut sebagai wong ndeso yang tidak ndesani alias orang dari desa yang cara hidup dan pergaulannya luas.

Pengamatan Kakek tentang kondisi jaman yang makin rusak ini lumayan jeli, tajam dan tepat sasaran. Menurut Kakek, semakin bertambah jauh penghuni bumi ini meninggalkan ajaran agama, semakin besar malapetaka yang akan datang, susul-menyusul seperti deretan bencana yang beberapa tahun terakhir terjadi.

"Orang yang mengaku sebagai pemeluk agama memang makin hari bertambah banyak, tapi mereka itu ibarat buih. Menggelembung dan kelihatan besar di permukaan, di bawah buih-buih tersebut kosong tak ada apa-apanya. Orang beragama yang hanya ingin dipuji, ingin disebut fanatik. Buktinya orang bermoral tercela malah muncul di mana-mana," kritik Kakek.

Di masa Kakek muda dulu, tekhnologi memang tidak secanggih sekarang. Namanya orang jahat akan selalu ada, bersamaan dengan terciptanya bumi, langit beserta isinya ini. Untuk mengantisipasi tindak kejahatan, di samping benteng agama kuat, orang harus menguasai tekhnologi juga, agar tidak dimakan orang lain.

"Dulu orang durjana, orang yang bermaksud tidak baik kepada kita hanya bisa diimbangi dengan doa dan ilmu kanuragan. Orang tidak  mempunyai kesaktian akan jadi bulan-bulanan orang sekitarnya," ujar Kakek panjang lebar. Tapi aku senang mendengarnya karena apa yang diucapkannya penuh petuah.

Apa yang dikatakan Kakek paling akhir ini menjadikan aku teringat akan peristiwa yang sungguh tak kuduga sebelumnya. Dua tahun lalu, suatu malam dengan sinar rembulan merajai alam, Kakek mengajakku ke bagian belakang tempat tinggalnya. Aku sendiri tak tahu apa kehendak Kakek kali ini. Dua hari sebelumnya Kakek membuat anyaman bambu menyerupai kurungan ayam, dengan lebar lebih empat meter serta tinggi lima meter.

Kakek memintaku untuk membuka kurungan tersebut, sementara dia duduk bersila di dalamnya. Entah apa yang dilakukannya, sesaat setelah merapalkan doa, Kakek tidak ada lagi di dalam sangkar bambu ini. Ke mana dia? Tiba-tiba.. masya Allah! Jantungku terasa nyaris rontok manakala di dalam sangkar berdiri dengan garangnya seekor macan putih. Saking besarnya, tubuhnya hampir memenuhi setiap jengkal lokasi sangkar.

"Tak usah takut, Ko. Aku kakekmu si Sumarto Joyo. Aku hanya ingin memperlihatkan kepadamu bahwa dengan wujud harimau putih inilah, dulu Kakek bisa membikin bertekuk-lutut orang-orang yang ingin mencelakai Kakek," kata Kakek. Suaranya terdengar menggema, seakan guntur yang menyambar di tengah hujan badai.

Aku mencoba menenangkan diri sambil perlahan kembali mendekat ke kandang itu.

"Sedetik lagi akan kamu lihat wujud asli Kakek sesungguhnya," kata harimau itu setelah aku mendekat.

Benar juga. Perwujudan harimau tadi telah lenyap, ganti Kakek yang sedang pringas-pringis minta dibukakan sangkar buatannya. Secara iseng kutanyakan apakah ilmu semacam ini tidak merepotkan pemilknya tatkala hendak meninggal.

"Ada mantra dan amalan penawarnya. Lagi pula ilmu demikian sudah tidak dipraktekkan lagi setelah kakek menikah," jawab kakek.

Sampai saat ini saya masih mengingat hal itu. Diam-diam aku ingin belajar tapi Kakek belum mengijinkan. Saya yakin suatu waktu Kakek pasti akan mau mengajarkannya pada saya.

Sumber : Dawa (Misteri)
indopsiritual.com

Sembuh Dari Penyakit Berkat Wasilah Wifik


Akhirnya, Hasan pun menemukan kitab lusuh yang sudah berbilang waktu dicarinya. Di dalam kitab itu tertulis kata dalam huruf Arab-Melayu; ... sebelumnya, ambil wudhu dan kenakan pakaian yang bersih. Kemudian, dirikanlah shalat Hajat 2 rakaat, lalu, tuliskan ayat-ayat tersebut di bawah ini dengan menggunakan jafaron emas di atas cawan putih, dan tuangkan air putih secukupnya.

Setelah tulisan larut, minum dan basuhkan ke seluruh tubuh. Lakukan selama tiga hari berturut-turut, Insya Allah mustajab.

Hari pertama; Bismillahi r-rahamnir-rahim dzalika takhfifun min Rabbikum wa rahmatun.

Hari kedua : ar-Rahmanu, dzalika takhfifun min Rabbikum wa rahmatun wa khaliqa l-insanu dla’ifan.

Hari ketiga: ar-Rahim, al-ana khaffafallahu.

Dan benar, setelah hal tersebut dilakukan dengan kesungguhan dan rasa ikhlas, maka, penyakit aneh yang sudah hampir setahun ini diidap Hasan langsung sembuh karena Allah. 

Sekali ini Saya akan menurunkan kisah menarik yang dialami oleh salah seorang sahabat yang mukim di salah satu kota di Sumatera Barat Hasan, 32 tahun, sebut saja begitu. Pada masa kuliah di salah satu PTS di Jakarta, Hasan yang berkulit hitam dan bertubuh atletis itu adalah seorang Tim Basket yang banyak digila-gilai para gadis. Betapa tidak, selain ramah dan suka menolong, Hasan juga tergolong mahasiswa terpandai di kampus kami. Praktis, tiap tahun ia selalu berhasil menggondol beragam hadiah. Seusai wisuda tujuh tahun lalu, Hasan sengaja kembali ke kampung halamannya, salah satu kota di bilangan Sumatera Barat untuk menjadi guru matematika.

"Aku akan mengabdikan tenaga dan pikiran untuk kampung halamanku. Dengan cara itulah aku bisa membahagiakan ayah dan bunda yang selama ini membiayaiku dengan susah payah", katanya ketika kami, lima sahabat, selesai wisuda.

Kami berempat hanya bisa bersalaman sambil saling mendoakan.

Waktu terus bergulir. Baru-baru ini, mendadak Saya dan beberapa kawan lainnya mendapatkan kabar yang kurang menggembirakan dari Yanti, istri Hasan.

Berita lewat sms itu teramat singkat dan mengejutkan; "Mohon doa kakak semua buat Uda Hasan, semoga ia kuat menghadapi cobaan ini".

Tanpa berlama-lama, Saya langsung menelepon. Ternyata, sudah hampir setahun Hasan mengidap penyakit aneh. Betapa tidak, tiga rumah sakit besar serta sederet paranormal tak ada yang bisa mendiagnosa penyakitnya dengan tepat. Yang dirasakan Hasan adalah badannya selalu lemas, mual dan kadang muntah serta tiap menjelang malam badannya pasti terserang demam tinggi.

Bahkan, tubuhnya yang semula atletis kini hanya tinggal tulang berbalut kulit tak hanya itu, kulitnya yang hitam legam dan berminyak, kini mulai keriput dan kering. Penderitaan Hasan pun makin lengkap, ia juga terserang oleh batuk kering yang berkepanjangan.

Menurut diagnosa dari beberapa dokter, ia terserang oleh kanker getah bening.

Sementara, sederet paranormal yang didatangi menyatakan ia terkena santet yang demikian ganas bahkan ada pula yang menyatakan betapa ada jin perempuan yang mendambakan balasan cinta darinya.

Sudah barang tentu, diagnosa dari dokter ditambah dengan keterangan dari beberapa paranormal yang didatangi membuat Hasan menjadi bingung pasalnya, ia sama sekali tidak merasa memiliki musuh apalagi menyakiti perasaan orang lain.

Ya ... kita berempat benar-benar tahu, semasa kuliah, Hasan tergolong anak yang santun dan langsung meminta maaf bila ia merasa melakukan kesalahan. Inilah beda Hasan dengan kami!

Setelah mendapatkan keterangan yang lumayan lengkap, Saya langsung menghubungi ketiga sahabat yang lain.

Ardi di Bekasi, Yana di Cirebon dan Hari di Lampung.

Kami sepakat, di minggu pertama bulan depan, seiring dengan adanya libur di hari Kamis dan Jumat, semua akan langsung berangkat untuk menyambangi Hasan.

"Kita bertemu di rumah Hasan", demikian keputusan Yana.

Waktu terasa berjalan begitu lambat. Pada hari yang telah ditentukan, Saya pun berangkat dengan pesawat pertama. Menjelang Dzuhur, Saya telah sampai di rumah Hasan.

Ternyata, semua telah berkumpul. Anehnya, Hasan yang dinyatakan sakit, malah menyambut Saya dengan tertawa.

Sekilas Saya melihat tubuhnya yang kurus kering tetapi, keceriaannya tetap tak pernah berubah. Sama seperti dulu saat kita masih bersama-sama menimba ilmu dan baru mendapatkan kiriman dari keluarga masing-masing.

Ketika Saya bersitatap dengan Yana, Ardi dan Hari, ketiganya hanya mengangkat bahu tanda tak mengerti. Ternyata, mereka juga baru saja tiba dan Hasan pun belum sempat bercerita. Hasan bahkan mulai sibuk menyambut tetua kampung dan para tetangga yang datang. Ya ... hari itu, keluarga Hasan sengaja menggelar acara syukuran atas kesembuhannya.

***

Malamnya, Hasan pun mulai bercerita. Waktu itu, sehabis melatih Basket di sekolah, mendadak ia merasakan pusing yang teramat sangat. Tubuhnya pun langsung demam tinggi, bahkan sempat

menceracau! Melihat keadaannya, Yanti, sang istri yang baru dinikahinya tiga bulan lalu, langsung membawanya ke dokter terdekat. Dokter pun langsung memberikan rujukan agar Hasan segera dirawat di rumah sakit. Di rumah sakit, dokter pun mulai melakukan diagnosa tetapi apa daya, walau telah melakukan pemeriksaan yang demikian intensif, tetapi, tak seorang pun dokter berhasil menemukan penyakit yang diidap oleh Hasan. Begitu juga halnya dua rumah sakit lain yang didatangi oleh Hasan.

Karena tak mendapatkan jawaban yang memuaskan atas penyakitnya, atas saran beberapa tetua kampung, Hasan pun mulai mencoba pengobatan alternatif. Hasilnya pun sama. Malahan Hasan jadi bertambah bingung dengan keterangan mereka yang satu sama lain berbeda.

Beruntung, ayah, bunda dan Yanti selalu memberikan semangat. Akhirnya, pada bulan yang keempat, Hasan pun semakin tekun mendekatkan diri dan berserah kepada-Nya. Sepulang mengajar, jika ia tidak sedang merasa sakit, selalu diisi dengan shalat sunah, mengaji dan shalat wajib tentunya. Bahkan, menginjak bulan kelima Hasan mulai menjalankan puasa sunah Nabi Daud AS.

Keanehan pun mulai terjadi. Seminggu sejak ia menjalankan puasa sunah, tiap menjelang senja, terdengar geraman harimau di kebun yang terletak di belakang rumahnya. Mulanya Hasan mengacuhkan saja.Tetapi, karena seisi rumah mendengar geraman tersebut, Hasan pun jadi penasaran.

Pada suatu ketika, bertepatan dengan malam Jumat, Hasan nekat ke luar rumah seusai mendirikan shalat Maghrib. Dengan batere di tangan, ia mencoba mencari sumber dari suara itu. Dan benar, di rimbunan semak di bawah batang pohon durian yang sedang berbuah lebat, Hasan melihat ada sepasang mata berkilau kehijauan.

Hasan tergugu. Kakinya bak menghujam tanah. Ia tak mampu lagi menggerakkan tubuhnya ketika inyiak (panggilan halus untuk harimau-red) mendekatinya. Ia hanya bisa bertasbih di dalam hati ....

Harimau itu mendekat seolah berkata-kata; "Carilah kitab peninggalan datukmu. Insya Allah, penyakitmu akan segera sembuh!"

Dan karena Allah SWT, setelah apa yang tertulis di dalam kitab lusuh itu dijalankan dengan kesungguhan dan ikhlas, Hasan pun kembali sehat seperti semula. Dan dua hari kemudian, dengan wajah sumringah, Hasan dan keluarganya melepaskan kepergian kami yang akan kembali ke kota masing-masing sampai di Bandara Tabing.

Sumber : Surya Puja Nagara (Misteri)
indospiritual.com

Kisah Cincin Genderuwo


Selama ini Tomi tak menyangka kalau rumah tua yang dilewatinya tiap malam sepulang kerja ternyata merupakan rumah angker yang menyimpan beribu misteri. Peristiwa yang terjadi beberapa tahun yang lalu merupakan pengalaman yang tak bisa dihilangkan dari ingatannya hingga hari ini.

Sebagai pegawai pabrik sablon, bagi Tomi dan kawan-kawannya sudah bukan merupakan hal yang aneh kalau tiap hari harus kerja lembur mengerjakan pesanan dari perusahaan tempatnya bekerja. Tak jarang ia baru bisa menyelesaikan pekerjaannya hingga tengah malam dan setelah itu pulang ke rumah yang jaraknya lumayan jauh.

Seperti hari itu. Tomi diminta lembur oleh bosnya karena sedang banyak pekerjaan. Dengan senang hati Tomi mengerjakan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Tanpa tersa hari menjelng tengah malam. Tomi berhasil menyelesaikan pekerjaaanya dan bergegas pulang setelah memasukkan semua pesanan untuk besok ke dalam bungkusan. Dikayuhnya sepeda tua peninggalan orang tuanya dengan pelan.

Sepanjang jalan yang dilewatinya terasa gelap, rupanya listrik di daerah tersebut padam. Dengan pelan sepeda tua tersebut berjalan menembus kegelapan malam. Sebetulnya hati Tomi sudah merasa tidak enak. Jalanan yang gelap ditambah suasana jalan yang sepi membuatnya miris. Tetapi rasa lelah karena seharian bekerja membuat tekadnya untuk pulang dan segera tidur semakin kuat.

Tiba di tikungan, Tomi tanpa sengaja melihat rumah tua yang sudah lama ditinggalkan penghuninya. Perasaannya menjadi tidak enak. Aneh mengapa hatiku berdebar-debar, gumam Tomi.

Seperti ada yang menyuruh, Tomi malah menghentikan sepedanya. Rasa takut yang mencekamnya membuat bulu kuduknya berdiri. Dengan kaki yang bertopang pada sandaran sepeda. Tomi mencoba memberanikan dirinya untuk menatap rumah tua yang ada di depannya. Jantungnya semakin berdebar-debar.

Apa aku lebih baik kembali dan tidur di gudang saja ya? tanya hati Tomi penuh rasa bimbang. Dia juga heran mengapa dirinya tidak segera beranjak dari tempat itu. Sebaliknya, kakinya justru melangkah mendekati rumah tua itu. Tomi merasakan ada kekuatan gaib yang menariknya untuk terus mendekat ke rumah itu.

Perasaan hatinya yang semakin kacau menjadi semakin tidak karuan waktu dilihatnya sesosok bayangan tampak berkelebat ke luar dari arah pintu pagar rumah kosong tersebut.

Dengan kaki yang gemetar karena ketakutan melihat bayangan tersebut. Tomi berusaha membalikkan sepedanya untuk berputar kembali.

Belum selesai ia  mengangkat roda sepedanya untuk berputar terdengan suara memanggilnya. "Mas…!" suara parau terdengar menyapanya.

Dengan memberanikan diri Tomi yang sudah bersiap-siap untuk mengambil langkah seribu menatap ke arah suara tersebut. Ternyata suara tersebut keluar dari seorang pria paroh baya berpakaian hitam dengan sarung membelit lehernya. Bayangan tersebut bergerak mendekatinya sambil mengarahkan lampu senter menyoroti Tomi beserta sepedanya.

Melihat sosok laki-laki beserta lampu senter yang menyorotinya, hati Tomi merasa lega. Bayangan yang dikiranya hantu tersebut ternyata merupakan manusia.

"Ada apa Pak?" kata Tomi balik bertanya.

Laki-laki bersarung tersebut tersenyum, sementara lampu senter di tangannya tampak digoyang-goyang. "Saya Basori, penjaga rumah tua ini," laki-laki itu memperkenalkan dirinya pada Tomi. Tangan kanannya yang juga besar-besar memegang stang sepeda Tomi. "Kalau boleh saya ingin numpang sampai pohon beringin di pojok desa. Mau mengambil bekal makanan untuk menjaga di rumah tua ini."

Tomi menatap heran tanda tak mengerti. "Saya tadi lupa membawa bekal. Ketinggalan di rumah" Basori meneruskan ucapannya yang terpotong.

"Boleh..boleh" Tomi langsung mengiyakan karena merasa gembira ada teman.

Tak lama kemudian Basori membonceng di sepeda Tomi. "Busyet. Berat banget ini orang," kata Tomi dalam hati sambil tetap mengayuh sepedanya.

Di perjalanan lampu listrik yang padam tetap belum menyala. Tapi dengan adanya lampu senter yang dibawa Basori, jalanan yang gelap menjadi agak terang.

"Sudah, sini saja Mas," Basori berkata kepada Tomi, ia menepuk bahu Tomi memberi isyarat agar berhenti. Tomi kemudian menghentikan sepeda.

"Rumah saya ada di balik gerumbulan pohon itu," Basori menunjuk ke  arah pepohonan di balik tikungan jalan.

Tomi hanya bisa menatap gerumbulan pohon yang ada.

Basori kemudian memasukkan senternya pada saku jaket Tomi "Senternya buat Mas saja. Buat kenang- kenangan."

Tomi hanya bisa mengucap terima kasih. Ditatapnya laki-laki paroh baya  bernama Basori yang melangkah melewati gerumbulan pohon yang ada. Tampak laki-laki itu menoleh. Namun wajah pria paroh baya itu kini berubah menjadi makhluk tinggi besar penuh bulu yang menutupi seluruh tubuhnya.

Tomi yang melihat hal tersebut hanya bisa berteriak minta tolong sambil mengayuh sepedanya sejauh mungkin. Sesampai di rumah diambilnya senter milik genderuwo yang mengaku bernama Basori tersebut dari sakunya. Senter itu ternyata telah berubah menjadi sebuah batu akik. Tomi sebetulnya merasa takut dan teringat akan genderuwo yang menakut-nakutinya sebelum ini. Tapi selanjutnya ia berpikir tentu batu akik ini bukan sembarangan karena milik genderuwo. Pasti mempunyai khasiat.

Keesokan harinya dipakainya cincin tersebut bekerja. Entah pengaruh cincin yang dipakainya atau bukan. Tumpukan kain yang akan disablonnya menjadi terasa ringan. Pekerjaan yang semestinya harus diselesaikannya dalam beberapa jam mampu diselesaikannya dalam setengah jam. Bahkan yang menakjubkan tumpukan bahan sablon dalam kaleng mampu diangkatnya hanya dengan satu tangan.

"Rupanya cincin ini benar-benar berkhasiat," dengan bangga Tomi mengelus-elus cincin tersebut.

Ternyata khasiat cincin genderuwo bukan itu saja. Di warung Mbak Ira tempatnya makan siang kalau bekerja, cincin genderuwo itu juga mempunyai khasiat yang lain. Rina anak gadis Mbak Ira yang selama ini selalu cuek kalau digoda para pria, tiba-tiba menjadi genit pada Tomi. Dengan kerling mata yang nakal mengarah ke Tomi gadis itu tampak dengan sibuk meladeni Tomi makan. Selama ini jangankan melayani, menoleh saja ia tidak mau. Berkali-kali Tomi mengelus akiknya . Ia seolah-olah mendapat durian runtuh dengan memiliki cincin genderuwo tersebut. Kerap kali pikirannya jadi dipenuhi hawa nafsu jika membayangkan kecantikan Rina dibanding istrinya yang sudah mulai kendor.

Seminggu sudah Tomi memiliki cincin genderuwo tersebut. Di malam Jumat setelah capek setelah seharian bekerja Tomi terlelap di ruang tamu. Sementara istrinya tidur di kamar sendiri. Tanpa terasa semalam suntuk ia telah  tidur dengan nyenyaknya.  Paginya setelah bangun dengan  wajah sumringah sang istri menghidangkan kopi .

"Mas tadi malam lain lho. Kuat sekali. Aku sampai berkali-kali," celoteh istri Tomi dengan genitnya.

Mendengar ucapan sang istri, Tomi merasa terkejut. Didesaknya sekali lagi istrinya. Kepalanya serasa berputar-putar manakala istrinya bercerita kalau semalam telah berhubungan badan dengan Tomi dan merasa puas sekali. Tidak biasanya Tomi menjadi begitu perkasa.

"Genderuwo keparat!!!!" teriak Tomi setelah mendengar cerita tersebut. Sang istri hanya melongo tanda tak mengerti. Tomi mencaci maki membayangkan apa yang telah dilakukan genderuwo tersebut sewaktu ia tertidur dengan nyenyaknya. Dengan bergegas ia mengayunkan sepedanya ke rumah tua tempat ia bertemu genderuwo seminggu sebelumnya.

Dilemparkannya cincin tersebut ke arah rumah tua tersebut. Cincin yang terlempar itu langsung lenyap masuk kedalam halaman rumah kosong. Ternyata cincin genderuwo itu membawa korban. Si genderuwo pemilik cincin berubah bentuk menjadi Tomi dan menzinai istrinya. Sebagai makhluk halus, genderuwo memang bisa berubah bentuk. 

Sumber : Bayu Indrayanto (misteri)

indospiritual.com

Akibat Pasang Susuk Pengasihan

Media susuk pengasihan ini adalah bulu seekor harimau. Siapa yang memasangnya, jika dia perempuan, akan menjadi banal dan hot. Berikut sebuah kisah nyata pemasang susuk karamat super langka ini….

Dulu, dia dikenal sebagai perempuan cantik penebar pesona. Namun kini dia hanya bisa berbaring lemas hampir tanpa daya. Teriakan kesaktian setiap malam memecah dari mulutnya yang kering dan kisut. Entah apa yang dirasakannya. Mungkin kesakitan, atau mungkin juga ketakutan.

Kenyataan tragis itu harus dialaminya hanya karena sewaktu muda dia tergoda memburu nafsu dan ego keduniawian. Dia rela diperbudak kekuatan gaib yang berasal dari aura harimau betina yang sedang nafsu bercinta.

Dia terlahir dari pasangan orang tua yang secara kebetulan memiliki kelebihan dalam bidang suprantural. Trista namanya. Sejak masih kecil kehidupannya sangat kental dengan aroma mistis, meski ayahnya yang mendalami ilmu mistik kejawen itu tidak pernah menurunkan ilmu-ilmu miliknya kepada putrinya ini.

Diusia 16 tahun, Tirsta dijodohkan dengan lelaki murid terkasih bapaknya. Sebut saja bernama Pristono. Lelaki yang sudah berusia 30 tahun ini sangat ngemong, sehingga rumah tangga mereka selama 4 tahun berjalan sangat rukun. Sayangnya, mereka tak dikaruniai keturunan. Sampai di usia 34 tahun, usia yang sangat muda, Pristono meninggal karena suatu penyakit yang disebut orang desa dengan istilah "angin duduk".

Di usia 20 tahun, jadilah Trista hudup menjanda. Statusnya ini sering menimbulkan kondisi yang tidak enak. Daia kerap kali jadi bahan gunjingan di kampungnya. Karena janda muda dan cantik, dia juga sering jadi bahan cemburu buta para ibu di desanya.

Merasa tak tahan dengan keadaan tersebut, akhirnya Trista melangkahkan kakinya untuk merantau ke Sumatera. Dia ikut menumpang di rumah kakaknya. Di Sumatera Trista bekerja sebagai pembantu rumah tangga di sebuah keluarga kaya. Tanpa bisa dikendalikan, janda muda ini jatuh cinta pada anak majikannya. Sudah dapat dipastikan, pemuda tampan itu tak mungkin sudi  menanggapi cinta janda kembang dari desa terpencil di pelosok Jawa ini. Trista sama sekali tidak sepadan dengan dirinya.

Cinta bertepuk sebelah tangan akhirnya membawa Trista berkenalan dengan dunia mistis. Dia menemui Mbah Darto, orang sakti yang juga berasal dari Jawa dan kebetulan adalah saudara seperguruan Bapaknya Trista. Terenyuh oleh nasib yang menimpa Trista, Mbah Darto menyarankan agar janda muda ini memasang susuk bulu harimau betina yang sedang birahi, atau dalam istilah wong Jawa disebut Susuk Pengasih Nyai Singo Bawuk. Susuk ini tingkat kesulitannya luar biasa, karena mencarinya harus menunggu saat musim kawin harimau.  Saat si raja rimba sedang melangsungkan hasratnya, maka harus dibunuh. Yang betina untuk si pemasang wanita, demikian pula yang jantan untuk pemasang laki-laki.

Menurut pengakuan Nek Trista, untuk pemasangan susuk harimau birahi ini harus diambilkan bulu yang tumbuh di kelamin harimau tersebut, meski hanya satu helai saja. Cara pemasangannya dengan ritual yang rumit. Setelah bulu harimau disiapkan, maka kewanitaan Trista dibasuh dengan darah harimau sekaligus dipasangkan bulu harimaunya di bagian terlarang tersebut.

Hasilnya memang luar biasa. Setelah memasang susuk keramat ini, anak majikan Trista yang tampan itu langsung bertekuk lutut di bawah kakinya. Singkat cerita, mereka pun menikah. Trista merasa dapat menggapai keinginannya, meski sesungguhnya pernikahan itu terjadi tanpa didasari kasih sejati sebagaimana wajarnya.

Dalam rentang perjalanan waktu, karena pengaruh Susuk Pengasih Nyai Singa Bawuk, akhirnya Trista tak dapat mengendalikan nafsunya. Dia telah dikuasai kekuatan gaib yang bersemayam dalam susuk tersebut. Sejak itu, mulailah badai menerjang bahtera rumah tangganya. Setelah harta suaminya habis, Trista meninggalkannya. Dia lari mengejar impiannya untuk memuaskan nafusnya, sekaligus mengumpulkan harta duniawi.

Trista memilih kembali ke tanah Jawa. Tapi dia berlabuh di Jakarta. Di kota ini dia semakin menjadi-jadi. Dia terjun ke dunia hitam pelacuran. Hebatnya, setiap laki-laki hidung belang yang berhubungan dengan dirinya pasti akan ketagihan, sehingga banyak diantara mereka yang ludes uang atau harta bendanya.

Sebenarnya, Trista bukanlah gadis yang matre. Ini semua karena pengaruh susuk harimau betina tersebut, sehingga dia menjadi liar. Dan keliarannya membutuhkan biaya yang tinggi demi memenuhi selera live stylenya yang telah berubah. Dia bukan lagi gadis kampong yang lugu dan apa adanya. Untuk semua ini, sudah tentu dia membutuhkan uang banyak.

Begitulah! Petualangan Trista baru berhenti ketika dia jatuh ke dalam pelukan seorang duda kaya raya yang bernama Harmoko. Mereka menikah, dan Trista terentaskan dari lembah hitam.

Sayang, pernikahan ketiganya inipun juga tak dikaruniai anak. Di usia 50 tahun, usaha Harmoko bangkrut karena ditipu beberapa rekan bisnisnya. Akhirnya mereka jatuh miskin. Biaya hidup di Jakarta sangat mahal. Karenanya mereka memutuskan pulang ke kampung halaman Trista di Jawa. Di tempat tinggalnya yang baru, Trista mulai tekun memperdalam ilmu klenik, dan akhirnya membawa dirinya bertemu dengan roh gaib yang bernama Nyai Pilut. Dari bisikan Nyai Pilut inilah, Trista tahu sesuatu masalah yang ditanyakan orang lain. Ya, Trista  menjadi dukun prewangan.

Tak lama kemudian, Trista cukup kondang di daerahnya. Banyak orang datang kepadanya. Merasa dendam dengan nasib buruk yang menimpa Hormoko, suaminya, yang ditipu rekan bisnisnya, maka mendorong Trista sering menipu orang yang datang padanya, dengan pembayaran yang cukup mahal. Ada-ada saja alasan yang digunakan untuk mengeruk uang pasiennya.

Karena kelewat komersil, nama Trista akhirnya redup bak ditelan malam. Menurut orang-orang dekatnya, Trista telah ditinggal pergi oleh Nyi Pilut, yang tidak suka Trista telah berubah perangai menipu orang-orang yang meminta pertolongan padanya.

Akhirnya Trista jatuh miskin lagi. Dan yang lebih mengenaskan, Harmoko terkena stroke. Lima tahun sakit akhirnya dia meninggal dunia. Trista sering merenung, sekarang dia sendiri, tak punya siapa-siapa untuk  berbagi cerita. Padahal dia benar-benar mencintai suaminya itu.

Usia Trista sekarang telah 75 tahun. Sejak Harmoko meninggal, dia memang sudah tak mau lagi bersentuhan dengan laki-laki, meski itu sangat berat. Ketuaan telah menggerogoti raganya. Dia jatuh terkulai tak berdaya. Dalam ketidakberdayaan ini setiap malam, nenek Trista kerap berteriak-teriak kesakitan dan kadang-kadang menggeram bak seekor harimau. Oleh adik-adiknya, diusahakan cari syarat piranti gaib. Dari hasil deteksi ahli batin seorang paranormal wanita yang disapa akrab Jeng Rahayu dikatakan; "Ada 9 susuk ditubuh Mbah Trista, yang delapan saya sanggup mencabut, tapi yang satu, yang dipasang di daerah kewanitaan, rasanya perlu waktu untuk mempelajarinya."

Menurut Ahimsa, salah seorang adik Mbah Trista, ke-8 susuk pengasih berhasil dicabut oleh Jeng Rahayu. Untuk susuk yang satunya sedang mohon petunjuk ke Tuhan. Dua minggu kemudian, Jeng Rahayu bilang, kalau susuk itu bisa dikurangi daya gaibnya dengan Jadem Arab.

Jadem adalah tanaman semacam agave atau disebut lidah buaya, tapi yang tumbuh di gurun Arab. Entah dari mana dapatnya, sejak diberi Jadem Arab itu, teriakan Mbah Trista tak begitu memilukan. Tapi tetap saja menjerit-jerit hampir tiap malam, meski frekuensinya berkurang. Jeng Rahayu juga bilang pada Ahimsa, Susuk Pengasih Nyai Singa Bawuk hanya dapat dihilangkan dengan darah kucing kembang talon (belang tiga) jantan dan tapelan kulitnya.

Betapa sulitnya mencari kucing kembang talon jantan, sebab kucing jantan jenis ini pasti dibunuh induknya sendiri, atau kucing dewasa lainnya bila diketahui hidup. Konon, bila sampai tumbuh dewasa ia akan menjadi rajanya kucing.

Tapi, puji syukur, Ahimsa, bisa mendapatkan kucing dimaksud meski masih anakan. Kucing mungil yang masih sangat muda itu dipotong, darahnya digunakan untuk membasuh daerah kewanitaan Trista, lalu kulitnya yang sudah diseset ditempelkan di tempat terlarang itu.

Ritual tersebut dilakukan sore hari. Menjelang tengah malam, tiba-tiba Mbah Trista menjerit sangat keras dan mengaum panjang seperti harimau. Kata Ahimsa, dari pusarnya keluar cahaya kemerahan, meluncur menembus genteng. Tak lama kemudian, Mbah Trista tertidur pulas.

Satu minggu sejak peristiwa itu, Trista tiap malam tak teriak-teriak lagi dan tak menggeram. Nenek renta itu akhirnya wafat dalam damai setelah susuk Nyi Singo Bawuk terlepas dari raganya.

Sumber : Goenawan WE (Misteri)

Masjid Pohon dan Kisah Mukzijat Rasul


Hampir semua masjid yang ada di Arab Saudi diberi nama sesuai dengan tragedi yang terjadi di masjid tersebut. Salah satunya adalah Masjid Pohon yang ada di Makkah. Masjid ini dulu menjadi saksi terbangnya sebuah pohon.

Masjid Pohon atau yang lebih dikenal dengan Masjid Syajaroh memang cukup istimewa. Saat pertama kali mendengar nama ini, mungkin di benak Anda terpintas pikiran sebuah masjid yang berdiri di atas sebuah pohon, atau pun masjid dengan bangunan yang didominasi dengan kayu.




Nyatanya, Masjid Pohon hanyalah sebuah masjid biasanya yang dibangun menggunakan semen dan bahan bangunan lainnya. Lalu kenapa dinamakan Masjid Pohon? Sebuah kisah menakjubkan melatarbelakangi penamaan masjid.

Sejarah Islam mengatakan dulu di dalam masjid yang berhadapan dengan Masjid Al Jin ini, berkumpul para jin kafir. Mereka sengaja datang untuk bertemu Nabi Muhammad SAW.

Para jin datang untuk mempertanyakan dan meminta bukti atas kerasulan Rasulullah SAW. Kemudian, Rasul pun memanggil sebuah pohon yang berada tak jauh dari masjid untuk datang menghampiri mereka. Atas izin Allah, pohon ini tercabut dari tanah dan datang menghampiri Rasul. Setelah itu Rasulullah memerintahkannnya kembali, sang pohon pun kembali lagi ke tempat asalnya.

Kawanan jin yang melihat ini pun mengakui kerasulan Nabi Muhammad SAW dan memeluk agama Islam. Atas mukjizat memanggil pohon inilah, masjid ini diberi nama dengan Masjid Syajaroh atau Masjid Pohon.

Saat ini, Masjid Pohon menjadi destinasi wisata religi yang banyak dikunjungi para umat Muslim saat berkunjung ke Tanah Suci. Selain cerita yang melatar belakangi penamaan masjid, Masjid Pohon juga dikunjungi untuk mengagumi mukjizat Nabi Muhammad SAW.

Sumber : detiktravel